Senin, 14 November 2011

KAIDAH TAFSIR ( al-sual dan al-jawab fi-alquran)


AL-SUAL dan AL-JAWAB
Oleh: Miftahul Ihsan
                                               






JURUSAN USHULUDDIN PRODI TAFSIR HADIS
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGETI SURAKARTA
2010/2011

AL-SU’AL dan AL-JAWAB
A.    PENDAHULUAN

Al-Quran dalam memberikan sebuah penjelasan sangat komprehensip, karenaya menjadi sebuah i’jaz tersendiri baginya, hal ini dapat diketahui lebih jelas dalam buku kajian tentang ulum al-Quran. Termasuk kaidah yang mengandung unsur tersebut ialah kaidah al-Sual dan al-Jawab dimana al-Quran menggunakan shigat tersebut tidak lain karena untuk memberi penjelasan yang lebih penting. Setiap pertanyaan pasti membutuhkan adanya sebuah jawaban sebagaimana kaidah umum yang menjelaskan bahwa setiap jawaban harus sesuai dengan apa yang ditanyakan. sebagai contoh ketika kita ditanya tentang umur pastilah jawaban itu adalah hitungan mulai satu dan seterusnya. Atau ketika dikatakan “dimana alamatmu” pasti jawaban yang muncul ialah mengenai tempat dimana ia tinggal. Begitulah kaidah umum berlaku. Akan tetapi dalam al-Quran tidak demikian ada yang sepintas dianggap tidak sesuai dengan kaidah umum. Untuk lebih jelasnya perhatikan uraian berikut.

B.     PEMBAHASAN

1.      Pengertian
Sebelum pengertian dari al-Sual dan al-Jawab diuraikan perlu diketahui bahwa setiap pertanyaan pasti membutuhkan jawaban, dan setiap jawaban harus sesuai dengan jawaban pertanyaan tersebut. Hal ini didasarkan atas kaidah yang sudah umum dalam berkomunikasi. Akan tetapi kaidah umum tersebuttidak berlaku lagi bila dikaitkan dengan al-Qur’an. Dalam al-Qur’an jawaban tidak harus sesuai dengan apa yang menjadi fokus pertanya’an karena di dalamnya terdapat suatu hal yang lebih penting dari apa yang menjadi fokus pertanyaan tersebut.
Mengenai pengertian dari al-Su’al itu sendiri Nor Ihwan dalam bukunya yang dikutip dari Khalid Abd al-Rahman al-Akk, menegaskan bahwa yang disebut dengan al-Sual (pertanyaan) ialah sebagai suatu perkataan yang dijadikan permulaan. Sedangkan al-Jawab (jawaban) ialah perkataan yang dikembalikan kepada si penanya.[1] Jadi dilihat dari definisi tersebut disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan al-Su’al itu tidak harus berupa pertanyaan, boleh jadi al-Sual tersebut tidak berupa pertanyaan akan tetapi berbentuk permintaan sebagaimana yang ditunjukkan  dalam QS. Yunusl10:15
tA$s% šúïÏ%©!$# Ÿw tbqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 ÏMø$# Ab#uäöà)Î/ ÎŽöxî !#x»yd ÷rr& ã&ø!Ïdt/ 4 ö@è% $tB Ücqä3tƒ þÍ< ÷br& ¼ã&s!Ïdt/é& `ÏB Ç!$s)ù=Ï? ûÓŤøÿtR
Yang dimaksudkan oleh penulis dari pengertian al-Sual yang mempunyai arti permintaan (bukan pertanyaan) di atas terdapat pada kalimat a’ti biqur’anin ghoiri hazda. Akan tetapi kebanyakan dari kaidah al-Sual ini banyak menggunakan sighat-sighat pertanyaan yang uraiannya akan dijelaskan di pembahasan yang selanjutnya.

2.      Kaidah Al-Su’al Dan al-Jawab Serta Makna Penting Yang Terkandung di Dalamnya.

Sebagaimana uraian di atas bahwa al-Quran berbeda dengan kaidah umum. Al-Quran dalam memberikan jawaban kadang terlihat tidak sesuai dengan apa yang seharusnya menjadi fokus dari pertanyaan tersebut. Demikian itu dikarenkan ada sesuatu yang dianggap lebih penting dari apa yang dimaksudkan dari pertanyaan tersebut. Perhatikan QS.al-Baqarahl2:189
tRqè=t«ó¡o Ç`tã Ï'©#ÏdF{$# ( ö@è% }Ïd àMÏ%ºuqtB Ĩ$¨Y=Ï9 Ædkysø9$#ur
                        Sighat al-Sual yang digunakan dalam ayat di atas menggunakan lafat yas’alunaka. Adapun yang melatar belakangi turunnya ayat ini ialah ketika itu ada sekelompok orang yang menanyakan perihal bulan sabit kepada rasulullah. Mengapa pada mulanya ia tampak kecil seperti benang kemudian bertambah sedikit demi sedikit hingga menjadi purnama kemudian menyusut terus-menerus sampai kembali seperti semula.[2] Seharusnya pertanyaan itu cukup dijawab dengan proses perubahan bulan tersebut karena yang ditanyakan tentang keadaan dari bulan tersebut. Akan tetapi al-Quran memberikan yang lain, yaitu dengan menjelaskan hikmah dari proses perubahan yang terjadi pada bulan tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan untuk musim haji.[3] al-Quran menggunakan jawaban demikian boleh jadi karena ada asumsi lain yang dipertanyakan, dalam arti tidak terpaku hanya perihal perubahan bulan sabit semata tapi juga menginginkan manfaat yang terkandung di dalamnya.[4]
Jawaban dari teks yang digunakan al-Qur’an di atas  dapat dikatakan tidak sesuai dengan pertanyaan, akan tetapi kalau diamati dengan seksama serta melihat analisis yaitu tentang asumsi-asumsi di atas maka jawaban tersebut masih ada kesesuaian. Dengan demikian jawaban yang diberikan tersebut tidak menyalahi kaidah umum yang berlaku.
Adapun jawaban dari sebuah su’al kadang-kadang bersifat lebih umum dari apa yang dipertanyakan, dan ada kalanya juga lebih sempit dari pertanyaan karena demikianlah yang dikehendaki.
Adapun pembagian yang pertama sebagaimana yang terkandung pada QS. Al-An’aml6:64
È@è% ª!$# Nä3ÉdfuZム$pk÷]ÏiB `ÏBur Èe@ä. 5>öx. §NèO öNçFRr& tbqä.ÎŽô³è?
“katakanlah”Allah menyelmatkan kamu dari pada bencana itu dan dari segala macam kesusahan kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.

Maksud dari ayat di atas ialah bahwa Allahlah yang mampu menyelamatkan dari bencana tersebut. Baik di arat maupun di laut. Bahkan allah jugalah yang menyelamatkan dari segala macam kesusahan. Jawaban ini dianggap sebagai jawaban yang umum dan lebih komprehensip dari pertanyaan yang terdapat dalam ayat sebelumnya yang berbunyi:
ö@è% `tB /ä3ŠÉdfuZム`ÏiB ÏM»uHä>àß ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur ¼çmtRqããôs? %YæŽ|Øn@ ZpuŠøÿäzur ÷ûÈõ©9 $uZ8pgUr& ô`ÏB ¾ÍnÉ»yd ¨ûsðqä3uZs9 z`ÏB tûï̍Å3»¤±9$#
“katakanlah”  siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdoa kepadanya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut. (QS. Al-An’aml6:63).

Redaksi dari ayat ini ialah mempertanyakan tentang siapa orang yang mampu menyelamatkan dari bencana yang ada di darat dan di laut. Dalam artian yang disoroti oleh pertanyaan tersebut hanya dua bencana yaitu di darat dan di laut. Tetapi al-Quran memberikan jawaban yang lebih dari pertanyaan yang terkandung dalam ayat di atas sebagaimana yang telah teruraikan dalam penjelasan ayat setelahnya yang terdapat dalam ayat ke 64 dari sura al-An’am karena allah ingin memberi pengetahuan kepada manusia dengan memberi jawabanlpenjelasan lebih, bahwa hanya Allahlah yang mampu melakukan itu. Inilah yang dimaksudkan dari ungkapan “karena demikianlah yang dikehendaki”.
Contoh yang sama dapat dijumpai pula dalam QS. Al-Syuaral26:71;
(#qä9$s% ßç7÷ètR $YB$uZô¹r& @sàoYsù $olm; tûüÏÿÅ3»tã
Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya".

Teks ayat ini adalah jawaban dari pertanyaan yang disebutkan oleh ayat sebelumnya tang berbunyi:
øŒÎ) tA$s% ÏmÎ/L{ ¾ÏmÏBöqs%ur $tB tbrßç7÷ès?
‘Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya; apakah yang kamu sembah?

Sebenarnya ayat ini mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya disembah oleh mereka.dengan menjawab “berhala” swbenarnya sudah cukup, akan tetapi mereka sengaja menambahi jawabannya dengan maksud untuk menunjukkan keseriusan mereka dalam menyembah sesembahannya itu. Boleh jadi juga dengan menambahi jawaban itu dapat dipahami bahwa mereka menantang memancing kemarahan sipenanya.[5]
                        Adapun bentuk jawaban yang bersifat lebih sempit cakupannya dari yang dipertanyakan dan memang demikian yang dikehendaki ialah sebagaimana terdapat dalam QS. Yunus/10;15:
 ö@è% $tB Ücqä3tƒ þÍ< ÷br& ¼ã&s!Ïdt/é& `ÏB Ç!$s)ù=Ï? ûÓŤøÿtR
Katakanlah, tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.
Ayat ini sebagai jawaban dari ayat yang mengandung sebuah permintaan sebelumnya yaitu:
ÏMø$# Ab#uäöà)Î/ ÎŽöxî !#x»yd ÷rr& ã&ø!Ïdt/
Su’al yang terkandung dalam ayat diatas terdapat dua tuntutan pokok yaitu permintaan mendatangkan al-Quran lain. Dan tuntutan kalau tidak mampu mendatangkan yang lain maka dituntut untuk menggantinya. Menanggapi ini al-Quran tidak memberi jawaban yang komprehensip bahkan hanya fokus dalam satu hal yaitu yang terkait dengan tuntutan untuk menggantinya. Jawaban dari al-Quran tersebut memberi pelajaran terhadap kita bahwa mengganti itu lebih mudah dari pada menciptakan kembali, pasti akan lebih sulit.
3.      Pola al-Sual dan al-jawab dalam al-Qur’an
Abd al-Rahman al-Akk mengatakan bahwa pola tersebut terbagi menjadi lima pola.[6]
Pertama, jawaban bersambung (muttashil) dengan pertanyaan seperti dalam firman Allah QS. Al-Baqarah/2:215;
 štRqè=t«ó¡o #sŒ$tB tbqà)ÏÿZム( ö@è% !$tB OçFø)xÿRr& ô`ÏiB 9Žöyz ÈûøïyÏ9ºuqù=Î=sù tûüÎ/tø%F{$#ur 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡pRùQ$#ur Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# 3 $tBur (#qè=yèøÿs? ô`ÏB 9Žöyz ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇËÊÎÈ
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.

Jawab tersebut ditunjukkan dengan menggunakan lafazh qul yang sambung dengan pertanyaannya yaitu yang bergaris bawah di atas.
Sebagaimana keterangan yang di depan yaitu jawaban ada yang lebih komprehensip dari pertanyaannya, ini berlaku juga pada ayat di atas bahwa dilihat dari asbab nuzulnya bahwa sesungguhnya orang-orang muslim bertanya “apa yang mesti kami infakkan ya rasul?[7]’. Tapi oleh al-Quran diberikan jawaban tidak hanya apa yang harus dinafkahkan akan tetapi juga tentang orang-orang yang berhak menerimanya.
 Kedua, jawabannya terpisah (munfasil) dengan al-Su’alnya terdapat dalam satu surah maupun dalam surah yang lain, adapun contoh yang terpisah dalam satu surah yaitu QS. Al-Furqan/25:7;
(#qä9$s%ur ÉA$tB #x»yd ÉAqߧ9$# ã@à2ù'tƒ uQ$yè©Ü9$# ÓÅ´ôJtƒur Îû É-#uqóF{$#   Iwöqs9 tAÌRé& Ïmøs9Î) ҁn=tB šcqä3uŠsù ¼çmyètB #·ƒÉtR ÇÐÈ
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,
Al-Sual yang terdapat pada ayat di atas dijawab dengan ayat yang lain tapi masih dalam satu surah yaitu pada ayat ke 20:
!$tBur $oYù=yör& šn=ö6s% z`ÏB šúüÎ=yößJø9$# HwÎ) öNßg¯RÎ) šcqè=ä.ù'us9 tP$yè©Ü9$# šcqà±ôJtƒur Îû É-#uqóF{$# 3 $oYù=yèy_ur öNà6ŸÒ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 ºpuZ÷FÏù šcrçŽÉ9óÁs?r& 3 tb%Ÿ2ur y7/u #ZŽÅÁt/ ÇËÉÈ
Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.

Adapun contoh dari jawaban yang berada oada surah yang lain yaitu QS. Al-Furqan/25:20:
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ãNßgs9 (#rßßÚó$# Ç`»uH÷q§=Ï9 (#qä9$s% $tBur ß`»oH÷q§9$# ßàfó¡nSr& $yJÏ9 $tRããBù's? öNèdyŠ#yur #YqàÿçR  
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab:"Siapakah yang Maha Penyayang itu? apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Pertanyan mengenai ‘siapa al-Rahman/yang maha penyayang itu” dijawab dengan surah yang lain yaitu surah al-Rahman yang mana disini dijelaskan lebih gamblang dari apa yang dipertanyakan tersebut.
Ketiga dijawab dengan dua jawaban yang terdapat dalam masing-masing surah yang berbeda juga. Bentuk seperti ini dicontohkan dalam QS.Zuhruf/43:31-32:
(#qä9$s%ur Ÿwöqs9 tAÌhçR #x»yd ãb#uäöà)ø9$# 4n?tã 9@ã_u z`ÏiB Èû÷ütGtƒös)ø9$# ?LìÏàtã ÇÌÊÈ óOèdr& tbqßJÅ¡ø)tƒ |MuH÷qu y7În/u
Dan mereka berkata: "Mengapa Al Quran Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini[1357]?"
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu
[1357]  mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad s.a.w., Karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang Kaya raya dan berpengaruh.

Pertanyaan di atas dijawab oleh al-Quran dengan dua jawaban. yang pertama dalam surah yang sama yaitu pada ayat 32:
ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±ŠÏè¨B Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# 4 $uZ÷èsùuur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_uyŠ xÏ­GuÏj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wƒÌ÷ß 3 àMuH÷quur y7În/u ׎öyz $£JÏiB tbqãèyJøgs ÇÌËÈ
Kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Jawaban kedua dari pertanyaan tersebut ialah QS. Al-Qashash/28:68:

šš/uur ß,è=øƒs $tB âä!$t±o â$tFøƒsur 3 $tB šc%Ÿ2 ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$# 4 z`»ysö6ß «!$# 4n?»yès?ur $£Jtã tbqà2ÎŽô³ç ÇÏÑÈ
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka[1134]. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).

[1134]  bila Allah Telah menentukan sesuatu, Maka manusia tidak dapat memilih yang lain lagi dan harus menaati dan menerima apa yang Telah ditetapkan Allah.

Keempat ialah pertnyaan yang jawabannya tidak disebutkan. Sebagaimana terdapat dalam QS. Muhammad/47:14;
`yJsùr& tb%x. 4n?tã 7poYÉit/ `ÏiB ¾ÏmÎn/§ `yJx. z`Îiƒã ¼çms9 âäþqß ¾Ï&Î#uHxå (#þqãèt7¨?$#ur Lèeuä!#uq÷dr& ÇÊÍÈ
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?
Menanggapi masalah ini khalid abd al-Rahman al-Akk mengatakan bahwa jawaban tersebut bukannya tidak ada akan tetapi dibuang (mahzuf) karena hal ini sama dengan halnya orang yang menginginkan gemerlapnya kehidupan dunia.[8]
Kelima, jawaban didahlukan daripada pertanyaanm seperti yang terdapat pada QS. Shad/38:1;
üÉ 4 Éb#uäöà)ø9$#ur ÏŒ ̍ø.Ïe%!$# ÇÊÈ
Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.
Ayat di atas adalah sebuah jawaban terhadap pertanyaan yang terdapat dalam ayat 4 dari surah yang sama, yaitu;
(#þqç6Ågxur br& Mèduä!%y` ÖÉZB öNåk÷]ÏiB ( tA$s%ur tbrãÏÿ»s3ø9$# #x»yd ֍Ås»y ë>#¤x. ÇÍÈ
Dan mereka heran Karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta".

Jadi dilihat dari semua uraian di atas dapat dimengerti bahwa dalam al-Quran bentuk al-Su’al tersebut tidak harus dijawab dengan secara langsung adakalanya juga dijawab dengan tempo, tempat/surah yang berbeda sehingga dengan demikian itu al-Quran tidak dimaknai secara terpotong-potong. Serta hubungan ayat dengan ayat yang lain itu menjadi diperhatikan.
C.     PENUTUP
Melihat dari uraian penjelasa diatas jelas bahwasannya al-Qur’an memberi penjelasan yang lebih dan semua itu mengandung maksut tersendiri sebagaimana uraian di atas. Maka dengan ini diharapkan agar penafsir yang hendak menafsirkan sebuah ayat seyogyanya memperhatikan bentuk-bentuk ungkapan dalam al-Qurn tersebut dan menggali makna/maksud apa yang terkandung di dalamnya.
Demikian ini penulis menuliskankan makalah tentang kaidah al-Sual dan al-Jawab serta mencoba untuk memberri uraian tentang makna yang terkandung di dalamnya yang dikutip dari beberapa pendapat ulamatafsir semoga sedikit banyak dapat memberikan manfaat. Amin.  

DAFTAR PUSTAKA
Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulum al-Quran, T.tp Mansyurat al-Asar al-Hadis, t.th
Nor Ihwan, Memahami Bahasa Al-Quran, , 2002, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Qamaruddin Saleh Dkk, Asbabun Nuzul, 1997, Bandung, Diponegoo, cet xix
Abd al-Rahman al-Akk, Ushulul al-Tafsir wa Qawaiduhu, 2003, Beirut:Dar al-Nafa’is, cet ke4


[1]Nor Ihwan,  Memahami Bahasa Al-Quran, (yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002), hal.74. lihat juga Abd al-Rahman al-Akk, Ushulul al-Tafsir wa Qawaiduhu, (Beirut:Dar al-Nafa’is, 2003) cet ke4, hal.312
[2] Qamaruddin Saleh Dkk, Asbabun Nuzul, (Bandung, Diponegoo, 1997) cet xix, hal.59
[3] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulum al-Quran, (T.tp Mansyurat al-Asar al-Hadis), t.th hal. 205
[4] Nor Ihwan, Memahami Bahasa Al-Quran, (yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002), hal. 74
[5] Ibid. Hal. 77
[6] Abd al-Rahman al-Akk, Ushulul al-Tafsir wa Qawaiduhu, (Beirut:Dar al-Nafa’is, 2003) cet ke4, hal. 318. Lihat juga Nor Ihwan, Memahami Bahasa Al-Quran, (yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002), hal. 79.
[7] Qamaruddin Saleh Dkk, Asbabun Nuzul, (Bandung, Diponegoo, 1997) cet xix, hal.70.
[8] Abd al-Rahman al-Akk, Ushulul al-Tafsir wa Qawaiduhu, opcit. hal.319. 



SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI ANDA.................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar